Silsilah Keraton Solo Dari Paku Buwono ke 1 Sampai 12

silsilah keraton solo

Pada artikel Sewa Mobil Solo kali ini akan membahas tentang silsilah keraton Solo dari Paku Buwono ke 1 sampai ke 12. Tentu Anda ingin mengenal lebih dekat lagi bagimana sejarah dari Keraton Solo. Dalam perjalalanan Keraton Solo dari tahun 1700 an sampai sekarang ternyata memiliki kisah yang banyak sekali. Mulai dari kisah peperangan sampai pada masa saat ini.

Inilah Silsilah Keraton Solo dari Paku Buwono 1 sampai 12

Sebelumnya saya akan perjelas lagi sebelum Anda membaca lebih jauh tentang silsilah keraton solo dari Paku Buwono ke 1 sampai ke 12. Penjelasan dibawah ini adalah penjelasan singkat, bila Anda ingin menyimak lebih dalam lagi bisa membaca di wikipedia.

Sejarah Raja Keraton Solo dari awal (Penjelasan singkat)

Awal mula sejarah dan keraton solo, tentu dimulai dari perjalanan Paku Buwono ke 1. Dia adalah yang mempelopori berdirinya istana Keraton Solo ini. Walaupun Keraton Solo mulai ada pada saat Paku Buwono ke 2 yang menjabat.

Paku Buwono ke 1 : Pangeran Puger / Raden Mas Drajat

Paku Buwono kesatu mempunyai nama asli Pangeran Puger yang juga bernama Raden Mas Drajat. Dia adalah putra dari sunan Amangkurat ke satu, yang merupakan raja terakhir di Kesultanan Mataram.

Dalam sejarah perjalanan Paku Buwono sebelum menjadi raja, dia pernah diangkat menjadi adipati anom (putra mahkota) pada saat ada perselisihan antara Amangkurat 1 dengan mas Rahmat (kakak tiri Paku Buwono yang lahir dari Permaisuri pertama (Ratu Kulon). Tetapi karena ada pemberontakan Trunajaya pada tahun 1674, dengan terpaksa Amangkurat 1 menarik kembali jabatan tersebut dari tangan Paku Buwono atau Mas Darajat.

Berjalannya waktu dengan adanya permasalahan di Kasunanan Mataram, Mas Darajat atau disebut juga Pangeran Pager melarikan diri ke Semarang. Dari situlah Pangeran Puger menjalin hubungan dengan VOC. Dengan hubungan diplomatis dengan VOC, Pangeran pager mendapatkan bantuan dari VOC dari semarang, madura (barat), dan Surabaya bergerak menyerang Kartasura. Sehingga Paku Buwono 1 berhasil menduduki tahkta Kartasura yang tepatnya pada tanggal 17 September 1705.

Paku Buwono ke 2 : Raden Mas Prabasuyasa

keraton soloSilsilah keraton Solo selanjutnya adalah Raden Mas Prabasuyasa. Dia pada tanggal 15 Agustus 1726 naik tahta menjadi Paku Buwana ke 2 di usianya yang ke 15 tahun. Karena saat umur yang terlalu sangat muda, beberapa tokoh istana berusaha bersaing untuk dapat menguasainya. Pada saat kepemimpinan Paku Buwono keĀ  2, para pejabat Kartasura pada saat itu terbagi menjadi 2 kelompok.

Kedua kelompok tersebut yaitu golongan yang mempunyai kedekatan dengan VOC yang dipelopori oleh Ratu Amangkurat (ibu suri), dan golongan satunya yang anti VOC dipelopori oleh Patih Cakrajaya. Hubungan Voc dengan Pakubuwana II memang pada walnya berjalan cukup baik. Bahkan Pakubuwono masih rajin mengangsur hutang-hutangnya dengan VOC (yang pada saat awal Paku Buwono ke 1 dibantu berperang merebut Tahkta Kartasura).

Karena adanya kedua kelompok yang saling bertentangan, maka sering terjadi banyaknya berbagai peperangan. Sehingga menjadikan istana di Kartasura semakin hancur. Dengan keadaan tersebut, Paku Buwono ke 2 ini berupaya membangun istana kembali di daerah Sala pada tahun 1745. Hingga saat ini istana tersebut dinamai sebagai Kraton Solo. Dia juga dijuluki sebagai raja Keraton Solo yang pertama.

Paku Buwono ke 3 : Raden Mas Suryadi

paku buwonoRaden Mas Suryadi adalah nama asli dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Dia adalah raja ketiga di silsilah keraton Solo yang menandatangani Perjanjian Giyanti. Perjanjian tersebut ditandatangani bersama pamannya, yang bernama Pangeran Mangkubumi dan Belanda. Raja kedua ( setelah Paku Buwono ke 2 yang membangun istana di keraton Solo) ini sungguh mengalami cobaan yang berat. Pada saat dia memerintak Keraton Solo.

Berbagai perang saudara, di kudeta karena sikap kepemimpinannya yang lemah, dan juga gampang sekali dikendalikan oleh VOC. Bahkan berbagai kekacauan dari dalam istana dan luar istana yang terus-menerus merongrong belum reda hingga sampai wafatnya pada tahun 1788.

Paku Buwono ke 4 : Raden Mas Subadya

raja keraton soloRaden Mas Subadya adalah Putera mahkota yang di tunjuk untuk menggantikan kedudukan Raja Pakubuwono ke 3. Dia merupakan raja yang cerdas, taat beragama, tegas, dan pemberani. Karakternya sangatlah berbeda dengan karakter ayahnya yang kurang cakap. Paku Buwono ke 4 merupakan raja yang memeluk agama islam yang taat, bahkan juga mengangkat para ulama menjadi pejabat kerajaan.

Cita-cita Paku Buwono ke 4 ini adalah berupaya mempersatukan kembali kerajaan-kerajaan yang terpecah-pecah menjadi satu kedaulatan. Bahkan raja ini juga mempunyai jiwa sastra, salah satu buah karyanya berjudul Serat Wulangreh. Lalu pada tahun 1820, Raden Mas Subadya meninggal.

Pakubuwana ke 5 : Raden Mas Sugandi

Raden Mas Sugandi ini adalah Penerus tahta berikutnya. Dalam silsilah keraton solo , dia yang meneruskan jabatan Paku Buwono ke 5. Tetapi pada masa kepemimpinannya hanya memiliki masa kekuasaan yang sangat pendek. Lama waktu kekuasaan yang dipimpinnya hanya selama 3 tahun. Dia juga dijuluki sunan sugih (Raja yang kaya) Karena harta yang dimilikinya begitu banyak, bahkan dia juga mempunyai banyak sekali ilmu-ilmu kesaktian. Serat Centini merupakan karya sastra yang di tulis oleh Paku Buwono ke 5 ini. Pada tahun 1823, wafatlah Raden Mas Sugandi atau Paku Buwono ke V ini.

Pakubuwana ke 6 : Raden Mas Sapardan

Penerus selanjutnya paku buwana ke 6 yaitu Raden Mas Sapardan. Beliau adalah sang raja yang sangat menyukai bertapa. Hingga dia sampai dijuluki sebagai Sinuhun BangunTapa. Dia diketahui mempunyai hubungan dengan pangeran Diponegoro, juga banyak berjasa membantunya melawan para penjajah. Lalu pada saat pangeran Diponegoro tertangkap oleh belanda, tidak lama kemudian Paku Buwono ke 6 ini juga ikut ditangkap oleh belandadan dibuang ke Ambon. Pada usia yang 42, beliau meninggal dibunuh oleh Belanda. Maka sampai sekarang ini, beliau menjadi pahlawan negara karena membantu melawan penjajah.

Pakubuwana ke 7 : Raden Mas Maliki Solikin

Raden Mas Maliki Solikin adalah bukan putra dari Pakubuwana ke 7. Dia adalah paman dari Pakubuwana ke 6. Karena pada saat Pakubuwana ke 6 ditangkap belanda, dia yang menggantikan tahta dari Keraton Solo. Pada saat pemerintahannya, keadaan berlangsung aman dan tenteram. Sehingga pada saat dia memim[in, karya sastra yang muncul di keraton Solo mulai meningkat. Dikarenakan beliau tidak mempunyai keturunan, maka kepemimpinan selanjutnya di lanjutkan oleh kakak nya yang sudah berusia 69 tahun.

Pakubuwana ke 8 : Raden Mas Kusen

Raden Mas Kusen adalah Pakubuwana ke 8 yang menggantikan jabatan Paku Buwono ke 7. Paku Buwono ke 8 ini, adalah seorang raja yang mempunyai satu permaisuri saja tanpa ada selir-selir. Tidak seperti yang lain sebelumnya yang mempunyai banyak selir. Karena saat menjabat menjadi Paku Buwono ke 8 ini usianya sudah 69 tahun, maka masa pemerintahannya juga tak berlangsung lama. Dia hanya menjabat selama tiga tahun. Bahkan saat beliau wafat pun tidak mempunyai seorang anak, sama seperti adiknya yang sebelumnya menjabat.

Paku buwana ke 9 : Raden Mas Duksino

Paku Buwono ke 9 ini adalah anak dari Pakubuwono ke 6, yang menggantikan jabatan pakubuwono ke 8. Dia adalah anak dari pahlawan yang membantu Pangeran diponegoro melawan penjajah. Sebenarnya Raden Mas Duksino ini adalah seorang raja yang bijaksana dan adil. Tetapi karena para bangsawan yang menjabat di keraton Solo hanya mau mengambil keuntungan dari diri sendiri saja, maka tidak ada kemajuan dari pemerintahannya.

Pakubuwana 10 : Raden Mas Malikul Kusno

Setelah Paku Buwono ke 9 wafat, maka Raden Mas Malikul Kusno yang menggantikan posisi jabatan Paku Buwono ke 10. Dia memerintah Keraton Solo selama 46 tahun. Pada masa pemerintahannya, Keraton Solo sudah memasuki era modern. Jadi tidak terjadi perang atau peristiwa tentang politik yang menggemparkan Keraton Solo. Malah pada masa nya dia, banyak sekali dibangun infrastruktur seperti pasar, stasiun, stadion dan infrastruktur lainnya. Pada saat dia meninggal, Paku Buwono ke 10 ini mendapatkan gelar sunan Panutup yang berarti raja besar yang terakhir yang di gelari oleh rakyat sekitar Keraton Solo.

Pakubuwana ke 11 : Raden Mas Antasena

Raden Mas Antasena adalah penerus atau pewaris dari Paku buwono ke 10. Pada masa pemerintahannya, keadaan sangat berbeda dengan pakubuwono sebelumnya yang tenang dan damai. Karena pada masanya terjadi perang dunia ke dua. Bahkan saat beliau menjabat, negara indonesia ini dalam penjajahan jepang. Sehingga pada kepemimpinannya lebih berat dibandingkan pemimpin Keraton Solo sebelumnya.

Pakubuwana 12 : Raden Mas Suryo Guritno

gambar-raja-keraton-soloPada saat Pakubuwono ke 11 meninggal, pakubuwono ke 12 lah yang menggantikannya. Silsilah keraton Solo selanjutnya yaitu Raden Mas Suryo Guritno. Dia inilah yang menjabat jadi Pakubuwono ke 12. Pada saat pemerintahannya, negara Indonesia masih dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. Sehingga saat dia menjabat, keadaan masih belum menguntungkan.

Saat Paku Buwono ke 12 wafat, terjadi keributan di dalam istana Keraton Solo. Terjadi Perselisihan perebutan tahta antara Pangeran Hangabehi dengan Pangeran Tejo Wulan. Karena awal permasalahan keributan tersebut, Paku Buwono ke 12 tidak mempunyai permaisuri yang sah. Tetapi atas dasar mufakat seluruh keluarga kerajaan, Pangeran Hangabehi lah yang di tunjuk menjadi Paku Buwono selanjutnya. Pangeran Tejo Wulan ditunjuk sebagai maha patih di keraton Solo.

Demikian lah penjelasan singkat tentang silsilah keraton Solo dari Paku Buwono ke 1 sampai 12. Penjelasan-penjelasan diatas masih dalam tahap penjelasan singkat. Bila Anda ingin mengikuti lebih jelasnya bisa membaca di wikipedia. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda tentang Keraton Solo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *